Monday, 31 August 2026

Permainan Cermin

Mari kita perhatikan kembali gambar di bawah ini:


Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, empat alam tertinggi, ditambah tiga sub-alam tertinggi di alam mental, adalah apa yang disebut alam-alam spiritual Cahaya murni, di antara aspek-aspek lainnya, itulah tempat kediaman roh kita (monad, penjangkar Kehendak) dan jiwa kita (atma, penjangkar Cinta).

Garis putus-putus di tengah alam mental adalah selaput yang memisahkan alam-alam spiritual yang lebih tinggi dari cinta dan cahaya murni di atasnya, dengan alam-alam yang lebih rendah yang disebut kepribadian di bawahnya. Ingat, semakin rendah alamnya, semakin padat materinya, dan semakin banyak anomali. Selaput ini adalah titik di mana materi menjadi begitu padat sehingga telah terjadi cukup banyak anomali dalam segala sesuatu di bawah titik itu, oleh karena itulah kegelapan dan dualitas dapat terwujud.

Karena segala sesuatu pertama kali diciptakan di atas dan kemudian mengalir ke bawah melalui satu per satu tingkatan, kita dapat mengibaratkan tingkatan-tingkatan yang lebih rendah sebagai proyeksi cermin dari tingkatan-tingkatan yang lebih tinggi, atau tubuh-tubuh yang lebih rendah sebagai pantulan/bayangan yang diproyeksikan oleh tubuh-tubuh yang lebih tinggi.


Sekarang mari kita bayangkan tata letak yang sama, tetapi pada bidang horizontal, dan mari kita sederhanakan demi tujuan simbolis.

Diri kita yang sebenarnya, atau "Diri Tinggi" berada di empat bidang yang lebih tinggi dan bidang mental yang lebih tinggi. Bidang-bidang kepribadian yang lebih rendah, yang terdiri dari fisik, plasma, eterik, astral/emosional, dan mental bawah, adalah pantulan diri tinggi di cermin.

Selaput mental (garis putus-putus) ibarat awan kabut yang berada di antara diri tinggi dan pantulannya, sehingga membuat pantulan di cermin menjadi buram.

Dalam sebagian besar lokasi di alam semesta, awan kabut ini terasa sangat tipis dan tembus pandang. Di planet ini, di mana banyak anomali telah terakumulasi, awan kabut ini terasa seperti kabut tebal yang sulit ditembus pandang.

Selain selaput mental ini, terdapat lapisan-lapisan kabut tipis dan kabut tebal lainnya yang menjadi halangan antara diri tinggi dan bayangannya, terutama di planet ini, khususnya di alam plasma.

Jadi, kita harus ingat bahwa apa yang kita lihat di alam fisik tentang diri kita sendiri—tubuh fisik beserta emosi dan pikiran kita—hanyalah proyeksi dari diri tinggi kita, seolah-olah terpantul di cermin. Cermin itu adalah cermin ajaib yang dapat menyimpan kenangan akan apa yang telah terpantul di dalamnya, sehingga meskipun ada kabut tebal, pantulan di cermin itu tetap ada. Karena adanya kabut tebal ini, kita di alam-alam rendah yang hanyalah pantulan, seringkali lupa bahwa kita hanya sekadar pantulan, dan mulai percaya bahwa kita adalah diri tinggi.

Ke mana pun kita memandang di dunia fisik, emosional, dan mental, yang kita lihat hanyalah pantulan, karena semua orang, tempat, dan benda lainnya juga hanyalah bayangan dari diri tinggi mereka.

Sebagai sekadar bayangan yang telah melupakan diri sesungguhnya, seringkali muncul perasaan tidak utuh, bahwa identitas kita tidak diakui, yang berasal dari hilangnya kesadaran akan diri tinggi. Dalam kelupaan ini, muncul kecenderungan umum untuk mencari rasa utuh tersebut di dunia bayangan. Maka, mengharapkan keutuhan, orang-orang mengukuhkan identitas mereka dengan mencari pendapat positif dari orang lain, berharap pengalaman dan pencapaian positif akan mengukuhkan identitas mereka pada akhirnya, dan akhirnya bayangan itu tidak akan terlihat buram lagi. Namun, hal ini benar-benar sia-sia, karena kesempurnaan tidak pernah bisa datang dari dunia bayangan, melainkan hanya dari bersatu kembali dengan diri tinggi, diri sejati kita.

Mencari kesempurnaan di dunia bayangan ibarat menempatkan dua cermin saling berhadapan; pantulannya saling mencerminkan satu sama lain tanpa henti. Dunia ini, di mana diri tinggi telah dilupakan, adalah labirin cermin-cermin yang saling berlawanan, mustahil untuk memahami apa yang sesungguhnya nyata.

Oleh karena itu, agar terobosan spiritual yang sesungguhnya dapat terjadi, seseorang harus tanpa syarat melepaskan segala harapan akan pengakuan dan kesempurnaan yang berasal dari pendapat orang lain, dari pencapaian diri sendiri, atau dari keadaan apa pun di dunia pantulan dalam tingkat-tingkat yang lebih rendah ini. Ia harus membersihkan tumpukan gambaran yang tersimpan dalam memori cermin (dalam tubuh mental, astral, eterik, plasma, dan fisik serta aura-auranya), yang diciptakan oleh pengalaman dan keadaan di alam-alam tingkatan bawah ini; dengan kata lain, melepaskan keterikatan dengan kepribadian, dengan pantulan-pantulan, serta dengan dunia fisik, emosional, dan mental bawah.

Dan dalam perspektif yang lebih jernih itu, seseorang dapat berusaha untuk akhirnya melihat kembali Cahaya yang dikirimkan oleh diri tinggi. Ketika diri yang lebih rendah/bayangan tidak lagi memandang ke arah dunia cermin, melainkan ke arah diri tinggi, sebuah jembatan Cahaya akan terbentuk antara diri tinggi dan cerminannya yang akan menghilangkan kabut, sehingga cerminan itu tidak akan buram lagi; penyempurnaan sejati akan terjadi, karena kesadaran dan identifikasi akan terpusat pada diri sebenarnya/diri tinggi yang kemudian akan mengendalikan segala sesuatu yang terjadi. Inilah yang sedang terjadi, baik secara individual maupun bagi seluruh ciptaan.


Kemerdekaan sekarang,

Kemenangan Cahaya!


Sumber: http://recreatingbalance1.blogspot.ch/2017/10/play-of-mirrors.html

No comments:

Post a Comment